About

Sabtu, 19 November 2016

Baduy, Masyarakat Kenekes ??

Masyarakat Baduy merupakan suatu kelompok masyarakat sub-etnis Sunda yang menempati sebuah kawasan seluas 5.102 hektar di kaki pengunungan Kendeng. Wilayah ini memiliki topografi berbukit dengan suhu rata-rata 20 °C. Secara geografis wilayah ini terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT  (Permana, 2001), sedangkan secara administrasi wilayah ini terletak di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kawasan ini dikenal sebagai Desa Kanekes, sekitar 38 km dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta.
Masyarakat Baduy sendiri lebih senang menyebut diri mereka sebagai ‘Urang Kanekes’ atau orang Kanekes, mengacu kepada wilayah tempat tinggal mereka. Sebutan ‘Baduy’ merupakan sebutan yang diberikan oleh para peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan suku Badawi dari jazirah Arab yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang terletak di bagian utara dari wilayah tersebut. Namun, masyarakat umum kadung menyebut mereka dengan sebutan Baduy.
Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes. Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
                                                      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar