About

Selasa, 27 Desember 2016

Ramalan Karl Marx: Kapitalisme Menghancurkan Dirinya sendiri

Ramalan Karl Marx:  Kapitalisme Menghancurkan Dirinya sendiri
Karl Marx yakin bahwa sistem produksi yang ada dalam kapitalisme akan hancur.  Dasar keyakinannya ialah  pandangan  Marx atas  sejarah yang berjalan menurut hukum determinisme  dialektis.  Tesis (diktatur kaum kapitalis) dengan suatu keperluan akan beralih menjadi antithesis (diktatur proletariat) untuk kemudian dengan suatu keperluan juga menuju suatu sintesis (milik bersama).  Argumen  filosofis  diperkuat dengan menunjukkan tanda-tanda bahwa kehancuran kapitalisme sudah dekat.
Sistem kapitalisme akan meniadakan dirinya sendiri.  Karena "nilai lebih"  di tangan kaum kapitalis,  maka kekayaan mereka makin besar dan buruh semakin miskin.  Mereka tidak sanggup lagi membeli apa yang diproduksi.  Persaingan di antara kaum kapitalis pun makin bertambah.  Mereka mulai  bergabung (trust,  kartel)  sehingga makin kuat kedudukannya.  Jumlah pemilik modal makin kecil  dan jumlah  kaum buruh makin besar.  Karena barang tak lagi dapat dibeli,  maka akhirnya sistem kapitalisme akan menghancurkan dirinya sendiri.


Sumber: Adelbert, 2004. Antropologi Berfilsafat. Yogyakarta:Pustaka Filsafat

Interpretasi dan Ketidaksepakatan


Interpretasi dan Ketidaksepakatan
Dalam sub bab ini membahas mengenai perbedaan interpretasi yang ada dilingkungan etis. Perbedaan interpretasi berawal dari gagasan yang berbeda-beda yang ada di dalam lingkungan etis. Contoh dari perbedaan interpretasi ini adalah bagaimana setiap individu memandang suatu perbuatan sebagai benar atau salah. Setiap individu pasti memiliki pendapat yang berbeda mengenai pandangannya terhadap suatu perbuatan dan menilai hal itu benar atau salah.
Perbedaan interpretasi juga dapat terlihat dari perbedaan prinsip setiap individu. Prinsip-prinsip yang berbeda ini paling dapat terlihat pada waktu dan tempat yang berbeda. Contohnya pada prinsip loyalitas, prinsip kehormatan, dan prinsip kesucian.
Juga cara memandang kehidupan yang baik menjadi persoalan pada perbedaan interpretasi. Maksudnya sebagian orang mungkin  menganggap bahwa kehidupan yang baik adalah dengan terpenuhinya prestasi, kekayaan, kenyamanan fisik, kesehatan, reputasi yang baik. Sedangkan, sebagian orang lainnya menganggap bahwa kehidupan yang baik itu  bukan sekedar itu, tapi juga dengan mempunyai hubungan yang baik dengan orang tua dan dapat melakukan pelayanan public.
Dari semua penjelasan diatas, itu hanya membahas mengenai perbedaan dalam hal penafsiran. Dan yang paling penting dari perbedaan diatas adalah bagaimana perbedaan gagasan itu dipahami.
Kebudayaan
Kebudayaan yang dibahas disini adalah kebudayaan dari pendapat Kymlicka bahwa kita dapat memahami “budaya” dalam arti yang luas. Terkadanag budaya dikenal dengan merujuk pada geografis. Misalnya orang menyebut  budaya Cina, budaya Indonesia, dsb. Budaya juga sering dikaitkan dengan kebangsaan, misalnya budaya Indonesia, budaya Spanyol, dsb. Kemudian ada juga kalsifikasi budaya oleh agama, misalnya budaya Hindu, budaya Islam, dan lain sebagainya. Terkadang budaya sering dikaitkan dengan etnis. Hal ini sepertinya agak keliru. Kita bisa membuat perbedaan yang jelas antara budaya dan etnis jika kita membahas “etnisitas” dengan apa yang dijelaskan pada biologi, dalam bahasan tentang DNA.
Pemahaman mengenai budaya dalam bahasan diatas benar, kecuali yang mengaitkan budaya dengan etnis. Karena menurut Waldorn (Waldron, 1996:96), sesuatu yang mendekati definisi umum, mengatakan budaya masyarakat adalah cara untuk melakukan hal-hal, terutama hal-hal yang dilakukan bersama-sama, sepanjang hidup seluruh manusia, bahasa, tata kelola, ritual keagamaan, upacara, struktur keluarga, bahan produksi dan dekorasi, ekonomi, ilmu pengetahuan, peperangan dan perasaan sejarah.
Dimensi Budaya
Dimensi budaya ini menjelaskan batasan tentang budaya yang berbeda, membantu kita untuk mengatur pemikiran kita tentang variasi budaya dan untuk memahami beberapa dimensi lain yang telah diidentifikasi. Di antaranya yaitu dimensi yang telah diidentifikasi oleh Hofstede (1991): 'Power-Distance', yang mengacu pada jarak antara mereka dengan kekuatan (atau otoritas dirasakan) dan orang-orang dibawah mereka. Beberapa antropolog sosial, Benedict (1946), memiliki budaya malu dan budaya rasa bersalah. Dalam budaya malu, menghindari rasa malu atau mengejar kehormatan yang motivasi dengan kuat untuk bertindak sesuai dengan norma-norma. Malu, penghormatan dan penghinaan berakar pada bagaimana seseorang di pandang oleh orang lain.
Budaya Sekolah
Budaya sekolah menjelaskna mengenai pembicaraan budaya dalam konteks sekolah. Dimana hal itu membahas mengenai cara agar nilai-nilai diinterpretasikan, apa yang dianggap diterima atau tidak dapat diterima, dipuji atau tercela, dan apakah sesuatu dianggap wajib atau dikesampingkan.
Beberapa Konstituen dari Lingkungan Etika Global
·         Dimana-mana tempat ada kemungkinan beberapa pengakuan dari harapan moral atau aturan perilaku.
·         Dimana-mana tempat juga ada kemungkinan akan pengakuan beberapa kualitas pribadi sebagai yang diinginkan dan dikagumi. Ada ruang variasi untuk beberapa kualitas ini.
·         Dimana-mana tempat orang akan memiliki beberapa persediaa pemahaman, bersama dengan orang lain di sekitar mereka untuk sebuah tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, dari apa yang membuat kehidupan menjadi baik.

Kita bisa menambahkan bahwa pengakuan dari pentingnya etika pendidikan sendiri meluas bersama tentang lingkungan etis, sementara konsep khusus dari pendidikan yang lebih spesifik misalnya seperti pendidikan moral, pendidikan kewarganegaraan atau pendidikan karakter mungkin memiliki arti penting khusus dalam berbagai lingkungan. Bab berikutnya akan mulai melihat lebih terinci ide-ide peran pendidikan dalam lingkungan etika.

Etika Lingkungan Dalam Pengembangan Kebajikan

Etika Lingkungan Dalam Pengembangan Kebajikan
·         Kami telah melihat bahwa untuk mengembangkan kebajikan seseorang mungkin perlu dibesarkan untuk bertindak dengan semacam cara yang benar, bahkan mungkin mengikuti aturan awalnya.
·         Satu fakta penting tentang kebajikan dan keburukan orang adalah, sekali diperoleh, mereka sangat mengakar, justru karena mereka melibatkan jauh lebih banyak dari kecenderungan hanya untuk bertindak dengan cara tertentu. Perubahan karakter tersebut adalah perubahan besar.
·         Jika suatu sifat karakter sangat mengakar, itu berarti bahwa orang yang bersangkutan tidak akan mengubah penilaian dan perilakunya karena orang lain di sekelilingnya berubah.
·         Dalam memperoleh kebajikan, seseorang harus menjadi rentan terhadap etika atau lingkungannya, kebajikan tidak dapat diperoleh dalam waktu yang singkat, suatu kebajikan harus diperoleh selama periode panjang.
·         Suatu kebajikan harus diperoleh selama periode panjang, jenis susceptibilty yang tepat pada lingkungan tampaknya memiliki realisme psikologis pada sisinya (Flanagan 1991), kenyataan harus membuat kita lebih berhati-hati dalam menerima gambaran kebajikan realisme sebagai suatu hal yang stabil secara menyeluruh serta kebal dari pengaruh lingkungan.

Kebajikan dan psikologi situasi
·         Kami akan mengasumsikan sifat untuk menjelaskan mengapa setiap orang berperilaku dengan cara yang berbeda dalam situasi tertentu.
·         Jika semisalnya kita ingin menjelaskan mengapa beberapa siswa mencontek dalam tugas kuliah mereka, kita mungkin berpikir bahwa beberapa siswa belum membangun karakter sifat jujur, dll.
·         Pendekatan situasi dalam psikologi sosial mempertanyakan sejauh mana perilaku individu dan terutama perbedaan antara perilaku salah satu orang dengan orang lain, dapat dijelaskan dengan ciri-ciri karakter dari setiap individu atau dari ada dan tidak adanya kebajikan.
·         Di akhir bab  dari buku ini akan menunjukkan dua cara berpikir tentang tugas pendidikan dalam kaitannya dengan nilai-nilai :
1.      Mengambil perspektif yang berkembang dari masyarakat: itu melihat pendidikan sebagai salah satu cara dimana masyarakat dapat memgembangkan dan mempertahankan kualitas etika lingkungan.
2.      Mengambil pandangan yang berkembang dari individu: itu melihat pendidikan sebagai salah satu cara dimana dapat membantu seseorang untuk menemukan jalan mereka melalui kompleksitas etika lingkungan di sekitar mereka.

Dua bagian dari argumen tersebut merupakan dua perspektif dari nilai-nilai pendidikan yang saling kompatibel dan saling melengkapi.

Senin, 19 Desember 2016

Keterkaitan antara Fakta dan Kebenaran



Kebenaran adalah sesuatu yang ada secara objektif, logis, dan merupakan sesuatu yang empiris. Sedangkan fakta merupakan kenyataan yang terjadi yang dapat diterima secara logis dan dapat diamati secara nyata dengan pancaindra manusia.
Kasus jatuhnya pesawat Mandala di Medan beberapa tahun yang lalu merupakan suatu contoh fakta yang terjadi dilapangan. Kenyataan berupa kasus pesawat yang jatuh tersebut merupakan sesuatu kasus yang benar adanya. Dengan kebenaran atas terjadinya kecelakaan pesawat merupakan suatu fakta yang tidak bisa dibantah lagi atas kebenarannya, baik secara logika maupun secara empiris. Contoh lain, shalat dapat mencegah manusia kepada kemungkaran merupakan suatu kebenaran wahyu yang tidak dapat dibantah lagi, baik secara logika maupun empiris, karena pada kenyataannya apabila orang shalatnya baik dan benar, maka prilakunya menjadi bagus di masyarakat.
Dari uraian dan kedua contoh diatas, menunjukkan bahwa antara kebenaran dan fakta merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, antara fakta dan kebenaran, dan antara fakta dengan kebenaran merupakan dua hal yang berkaitan sangat erat.

Sumber: Susanto, A, 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta:PT Bumi Aksara.


Empat Jenis Kebenaran Menurut Pranaka, Julianne Ford dalam Lincoln & Guba (1985)

Berbeda dengan Pranaka, Julianne Ford dalam Lincoln & Guba (1985) mengemukakan ada 4 jenis kebenaran yang berbeda, yaitu kebenaran empiris, kebenaran logis, kebenaran etis, kebenaran metafisis. Keempat kebenaran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Kebenaran empiris yaitu kebenaran yang sudah biasa digunakan oleh para ilmuan yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis untuk menerima atau menolak sesuatu sebagai kebenaran.
2.      Kebenaran logis yaitu kebenaran yang masuk akal yang dapat diterima oleh orang banyak, dimana kebenaran tersebut merupakan pernyataan hipotesis yang secara logis atau matematis sejalan dengan pernyataan lain yang telah diketahui sebagai sesuatu kebenaran.
3.      Kebenaran etis adalah kebenaran yang dapat diukur dengan standar nilai atau moral tertentu. Jadi, seseorang dianggap etis jika yang menyatakan kebenaran tersebut berbuat sesuai dengan ukuran pelaksanaan yang bersifat moral atau profesional.
4.      Kebenaran metafisis yang merupakan kebenaran yang sesuai dengan kepercayaan dasar. Kebenaran ini merupakan kepercayaan yang harus diterima sebagaimana ada. Kebenaran ini tidak dapat dibuktikan dengan ketidakbenaran, karena kebenaran ini menghadirkan batas akhir yang berbeda dengan segala yang teruji.

Sumber: Susanto, A, 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta:PT Bumi Aksara.


Fungsi logis



Fungsi logis dari definisi adalah memberikan batas arti atau makna simbolik dari suatu konsep, sehingga definisi disamaartikan dengan batasan. Konsep manusia perlu diberi batasan sehingga beda dengan konsep hewan atau batu. Pembuatan batasan tersebut pada dasarnya adalah memberikan penjelasan dengan menggunakan simbol lain yang lebih mudah dipahami.
Pada sejumlah pustaka yang menulis tentang konsep (dalam kaitannya dengan definisi) sering digunakan kata istilah. Dalam upaya menyusun bangunan teori, penulis menggunakan satu kata saja, yaitu konsep. Membuat definisi pada dasarnya adalah membuat batasan konsep tunggal. Ketika sejumlah konsep ditata relasinya atau ditata koherensinya atau ditata struktur paradigmanya, maka sejumlah konsep tersebut (yang menjadi konsep ganda, dan mungkin juga konsep kompleks) menjadi pernyataan. Pernyataan tersebut dapat berupa pendapat, hipotesis, postulat, asumsi, sampai ke struktur teori.
Dalam ilmu pengetahuan definisi biasa diberi sinoni, batasan, atau penjelasan. Disebut penjelasan karena memberikan keterangan agar sesuatu istilah dapat menjadi jelas. Disebut batasan karena memberikan batas-batas arti istilah yang dijelaskan.

Sumber: Susanto, A, 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta:PT Bumi Aksara.


Kebenaran Proposisi



Menurut teori ini, suatu pernyataan disebut benar apabila sesuai dengan persyaratan materilnya suatu proposisi, bukan pada syarat formal proposisi. Dalam sumber lain, ada juga yang menambahkan dengan bentuk kebenaran lain yang disebut juga dengan kebenaran sintaksis. Kebenaran sintaksis adalah kebenaran yang mengacu pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau suatu tata bahasa yang melekatnya. Dalam paham sintaksis ini suatu pernyataan dianggap benar apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keliar dari hal yang dipersyaratkan maka proposisi tersebut tidak memiliki arti.
Jadi, kebenaran sebagaimana ditemukan di atas, memiliki makna yang beragam dan kompleks, sehingga dalam memaknai kebenaran ini akan sangat tergantung pada situasi dan kondisi yang melatarinya, pengalaman, kemampuan, dan usia mempengaruhi kepemikiran epistemo tentang kebenaran. Sehingga wajar kalau AMW. Pranaka (1987) kemudian mengelompokkan kebenaran ini dalam tiga jenis kebenaran, yaitu ; 1) kebenaran epistemologikal,  2) kebenaran ontologikal, dan 3) kebenaran semantikal.
Kebenaran epistemologikal adalah pengertian kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontologikal adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat kepada segala sesuatu yang ada ataupun diadakan. Adapun kebenaran dalam arti semantikal adalah kebenaran yang terdapat serta melekat didalam tutur kata dan bahasa, yang sering disebut dengan istilah sintaksis.

Sumber: Susanto, A, 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta:PT Bumi Aksara.